Senin, 29 Februari 2016

Meniatkan Haji

       Tatkala ibuku mengatakan bahwa aku harus menemaninya beribadah haji, terbersit pertanyaan siapkah aku untuk melakukan ibadah haji? Pikiranku berloncatan liar mencari jawaban. Pantaskah aku beribadah haji? Padahal sholatku belum khusyu. Puasaku kadang hanya lapar dan haus belaka. Zakatku ditunaikan kalau ada uang. Infaq dan sedekahku masih jarang. Ah, semua jawaban menyimpulkan, aku tak layak untuk beribadah haji.

Bagaimana kalau nanti sudah menjadi haji? Banyak orang mengatakan, kalau sudah menjadi haji maka hidup kita harus semakin religius. Banyak juga orang berpendapat, hanya orang-orang terpilihlah yang dipanggil Allah SWT untuk menjadi haji. Secara sosial, masyarakat memanggil orang yang sudah menjalankan ibadah haji dengan ”Pak Haji”. Seringkali Pak Haji ini menjadi panutan bagi masyarakat. Siapkah aku menjalani kehidupan seusai melaksanakan ibadah haji ? Ah, aku meragukan diriku.

Ibuku terdiam ketika kulontarkan semuanya itu. Beliau hanya berkata, ”Kamu sudah sanggup dan siap!” Hatiku tercekat. Subhanallah! Itulah niat haji. Allah SWT berfirman: ”Di sana terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) Maqam Ibrahim. Barang siapa memasukinya (Baitullah) amanlah dia. Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barang siapa mengingkari kewajiban haji, maka ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam”. (QS. Ali Imran 97). Ayat ini diturunkan pada tahun 9 Hijriyah.

Sebagaimana sholat dan puasa, ibadah haji pun memerlukan niat. Bagiku niat tidak diucapkan ketika akan melaksanakan ibadah haji tersebut di Mekkah. Bagiku, niat adalah mengkondisikan diriku jauh hari untuk bersiap-siap melaksanakan ibadah haji. Niat itu akan meresap ke dalam hati dan pikiran. Dan niat itu nanti akan terucapkan. Ya Allah, pada saat ini aku meniatkan haji untuk berkunjung ke Baitullah dan pada saat nanti ketika aku sudah berada di Tanah Haram, aku akan mengucapkan niatku melaksanakan ibadah haji. 
Labbaik Allaahuma Labbaik, (Aku datang ya Allah, aku penuhi panggilanMu) 
Labbaik Laa Syariekalaka Labbaik, (Kusambut panggilanMu, yang tiada sekutu bagiMu, Kusambut panggilanMu)
Innal Hamda Wanni’mata Laka Wal Mulk, (Sesungguhnya segala puji, nikmat dan kerajaan adalah milikMu)

Laa Syariekalaka. (Tiada sekutu bagiMu)  

Tips 1 :

A. Tanamkan Niat
  • Cobalah menanamkan niat bahwa Anda harus beribadah haji.
  • Yakinkan diri Anda bahwa Anda sanggup dan siap beribadah haji.
B. Perwujudan Niat
  • Buatlah perencanaan hidup terkait dengan kapan melaksanakan ibadah haji.
  • Tekadkan diri Anda untuk melaksanakan ibadah haji misalkan pada umur 35 tahun bersama dengan orang tua atau isteri.